Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Oktober 2017

Governance in Indonesia: Challenges Facing the Megawati Presidency

Governance in Indonesia: Challenges Facing the Megawati PresidencyGovernance in Indonesia: Challenges Facing the Megawati Presidency
351 Pages·2003·1.67 MB· Downloads·English!
When Megawati Soekarnoputri became the President of Indonesia in July 2001, there were strong ...

Kamis, 21 April 2016

Raden Adjeng Kartini

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Rabu, 24 Februari 2016

CLARK KERR 1911

Debra D. Bragg dan Frankh S. Laanan


 “ Kenyataan mendasar bagi universitas adalah pengakuan lebih luas bahwa pengetahuan baru adalah faktor terpenting dalam pertumbuhan ekonomi dan sosial. Kita baru saja merasakan bahwa produk tak terlihat dari universitas, pengetahuan, bisa menjadi unsur terkuat dalam kebudayaan kita, memengaruhi jatuh dan bangunnya pelbagai profesi, kelas sosial, wilayah, bahkan bangsa”. 1

Selasa, 02 Februari 2016

Ki Hajar Dewantara

Pendiri Taman Siswa ini adalah Bapak Pendidikan Nasional. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberiteladan).


Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di sana. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya.


Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai Lihat Daftar Wartawan wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Selain ulet sebagai seorang Lihat Daftar Wartawan wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik.


Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda. Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913.


Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga).


Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi: "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun". Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial.


Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda. Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte. Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.


Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut. Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah.


Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah zaman kemedekaan, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama Ki Hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Lihat Daftar Menteri Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan Lihat Daftar Pahlawan Nasional pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Lihat Daftar Pahlawan Nasional pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.


Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara.




Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional. Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

Sabtu, 21 Maret 2015

Kyai Haji Ahmad Dahlan

Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Kamis, 24 April 2014

JOSEPH J. SCHWAB (1910-1988)

“Kurikulum disusun bukan berdasarkan repsentasi ideal atau abstrak, tapi pada hal yang nyata, permasalahan konkret----- dalam kebutuhan dan perbedaan dengan permasalahan konkret lainnya, pada sekumpulan fakta yang tanpanya abstraksi teoritik tidak bekerja.” 

LEE CRONBACH 1916

Lee  Cronbach mengawali kontribusinya dalam History of psychology in Autobiografy dengan menuliskan, “Psikologi telah menarik minat saya sejak awal. Saya lahir pada 1916, sebelum para pengikut Lewis Terman melakukan pengujian  mental."

Rabu, 23 April 2014

MAXINE GREENE (1917-..)

Maxine Greene telah mempengaruhi ribuan pendidik untuk membawa vitalitas seni kepada para guru dan anak-anak.  Untuk Greene, seni disediakan suatu saluran berarti keputusan, cara untuk membuat rasa dunia. Selama lebih dari 30 tahun dia telah Lincoln Center Institute (LCI) filsuf-in-residence.


R.S. PETERS (1919 - ...)

 Peters belajar di Queen kuliah Universitas Oxford dan diterima pada tahun 1942 Bachelor of Arts . Mulai dari tahun 1944 ia mengajar di Sidcot Grammar School di Somerset . Dia adalah dosen paruh waktu di Birkbeck kuliah University of London , di mana ia juga belajar filsafat dan psikologi. Di sana ia menerima gelar PhD pada tahun 1949. Dari 1949-1958 ia bekerja di sana sebagai dosen penuh waktu.

JOHN I. GOODLAD (1920 - ...)

John I. Goodlad (lahir 19 Agustus 1920 di Vancouver Utara, British Columbia ) [1] adalah seorang peneliti pendidikan dan teori yang telah menerbitkan model berpengaruh untuk memperbaharui sekolah dan pendidikan guru . Buku terbarunya Goodlad, In Praise of Education (1997), mendefinisikan pendidikan sebagai hak dasar dalam masyarakat demokratis, penting untuk mengembangkan kecerdasan demokratis individu dan kolektif. Goodlad telah dirancang dan dipromosikan beberapa program reformasi pendidikan, dan telah melakukan studi utama perubahan pendidikan. Buku dia telah menulis atau turut menulis termasuk The Moral Dimensi Pengajaran, Tempat Dimana Guru Apakah Diajarkan, Guru untuk Sekolah Bangsa kami, dan Pendidikan Renewal: Guru yang baik, sekolah yang lebih baik.

PAULO FRETRE (1921- 1997)

Paulo Freire lahir pada 19 September 1921 di sebuah kota terpencil yang ada di Brazil yakni Recife, sebuah kota yang terletak di pesisir pelabuhan di timur laut Brazil. Kemiskinan merupakan teman yang pertama kali dikenalnya, lapar dan pengasingan dari kemegahan kota adalah ke-akraban yang menemani hidupnya sehari-hari sewaktu kecil. Dengan kondisi social seperti itulah yang mendorongnya untuk berjanji akan bekerja diantara kaum miskin dan mencoba untuk memperbaiki nasib hidup mereka (orang-orang yang tinggal di sekelilingnya). Sebenarnya bila melihat latar belakang orangtuanya ia adalah terlahir dari kalangan kelas menengah ke atas, namun kadang kekurangan financial merupakan warna tersendiri dalam kehidupan keluarganya, dan karena pola hidup dan kondisi social demikianlah yang engantarkan Freire akan arti lapar dan kesengsaraan hidup dalam sebuah penindasan. Ia memahami betul arti lapar.


Selengkapnya baca halaman demi halaman di bawah ini:



untuk mengunduh dokument silahkan klik di sini :  PAULO FRETRE (1921- 1997)

Selasa, 22 April 2014

Studi Deskriptif tentang Tokoh-tokoh Filsafat Pendidikan Barat

Dari artikel ini dapat diketahui pemikiran tokoh-tokoh filsafat pendidikan dan
menjelaskan persamaan dan perbedaan pemikiran tokoh-tokoh tersebut.
HORACE MANN (1796-1859), FREIDRICH FROEBEL (1782-1852), CHARLOTTE MASON (1842-1923),

Tokoh Albert Einstein

Albert Einstein (lahir di Ulm, Kerajaan Württemberg, Kerajaan Jerman, 14 Maret 1879 – meninggal di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, 18 April 1955 pada umur 76 tahun) adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistika, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotolistrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis".


Setelah teori relativitas umum dirumuskan, Einstein menjadi terkenal ke seluruh dunia, pencapaian yang tidak biasa bagi seorang ilmuwan. Di masa tuanya, keterkenalannya melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah, dan dalam budaya populer, kata Einstein dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan genius. Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia.
Albert Einstein, Tokoh Abad Ini (Person of the Century)
Pada tahun 1999, Einstein dinamakan "Tokoh Abad Ini" oleh majalah Time. Untuk menghargainya, sebuah satuan dalam fotokimia dinamai einstein, sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, dan sebuah asteroid dinamai 2001 Einstein.



Untuk mengunduh modul silahkan klik disini : Tokoh Albert Einstein

 

 

Senin, 21 April 2014

TORSTEN HUSEN 1916

“ Membaca kehidupan memang relatif mudah, tapi sangat sulit meramalkannya”.


(ucapan yang sering berulang-ulang


Oleh Torsten Husen)


Torsten Husen dilahirkan tanggal 1 Maret 1916 di Lund, Swedia. Ibunya adalah operator telegraf setelah menyelesaikan pendidikan menengah. Ayahnya pernah mengenyam pendidikan dasar "paruh waktu" selama 5 tahun, suatu bentuk pendidikan yang khas di wilayah pedesaan pada waktu itu.

Kamis, 17 April 2014

DONALD THOMAS CAMPBELL (1916-1996)

Campbell lahir pada tahun 1916, dan menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang psikologi di University of California, Berkeley , di mana ia dan adiknya, Fayette, lulus pertama dan kedua, masing-masing, di kelas 1939.


Setelah melayani di AS Naval Reserve selama Perang Dunia II , ia memperoleh gelar doktor di bidang psikologi pada tahun 1947 dari UC Berkeley . Ia kemudian menjabat di fakultas di Ohio State , the University of Chicago , Northwestern , dan Lehigh .

Rabu, 16 April 2014

Sejarah Hidup Muhammad "Arab Pra-Islam"

BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM


Muhammad Husain Haekal


   “ Sumber peradaban pertama - Agama Yahudi dan Kristen    - Sekta-sekta Kristen dan Pertentangannya – Majusi    Persia di jazirah Arab - Jalan-jalan kafilah – Yaman    dan peradabannya - Sebabnya Jazirah bertahan pada    paganisma”.


 PENYELIDIKAN mengenai sejarah peradaban manusia dan dari  mana pula  asal-usulnya,  sebenarnya  masih  ada hubungannya dengan zaman kita sekarang  ini.  Penyelidikan  demikian  sudah  lama menetapkan,  bahwa  sumber peradaban itu sejak lebih dari enam ribu  tahun  yang  lalu  adalah  Mesir.  Zaman   sebelum   itu dimasukkan orang kedalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu sukar sekali akan sampai kepada suatu  penemuan  yang  ilmiah.


Sarjana-sarjana   ahli   purbakala   (arkelogi)  kini  kembali mengadakan penggalian-penggalian  di  Irak  dan  Suria  dengan maksud  mempelajari  soal-soal  peradaban  Asiria  dan Funisia serta  menentukan  zaman  permulaan   daripada   kedua   macam peradaban  itu:  adakah  ia  mendahului  peradaban  Mesir masa Firaun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa itu dan terpengaruh karenanya?


Lebih lanjut, silahkan baca  di halaman-halaman berikut ini:







 

Sejarah Hidup Muhammad

Dengan nama yang begitu  mulia,  jutaan  bibir  setiap  hari  mengucapkannya,   jutaan   jantung  setiap  saat  berdenyut, berulang kali. Bibir dan jantung yang bergerak dan berdenyut  sejak  seribu  tiga  ratus limapuluh tahun. Dengan nama yang begitu mulia, berjuta bibir akan terus mengucapkan,  berjuta jantung akan terus berdenyut, sampai akhir zaman  Pada    setiap    hari    di    kala    fajar   menyingsing, ingkaran-lingkaran putih di ufuk sana mulai  nampak  hendak menghalau   kegelapan  malam,  ketika  itu  seorang  muazzin bangkit, berseru kepada setiap makhluk insani, bahwa  bangun  bersembahyang  lebih  baik daripada terus tidur. Ia mengajak mereka  bersujud  kepada   Allah,   membaca   selawat   buat Rasulullah.

Sabtu, 12 April 2014

JEROME S. BRUNER (1915)

“Pendidikan bukan sekadar persoalan teknik pengolahan informasi, bahkan bukan penerapan "teori belajar" di kelas atau menggunakan hasil "ujian prestasi" yang beRpusat pada mata pelajaran ( subject centered “achievement testing” ). Pendidikan merupakan usaha yang komplek untuk menyesuaikan kebudayaan dengan kebutuhan anggotanya dan menyesuaikan anggotanya dengan cara mereka mengetahui kebutuhan kebudayaan.”

Jumat, 11 April 2014

MARTIN HEIDEGGER (1889 - 1976)

MARTIN HEIDEGGER (1889 - 1976)


Michael Bonnett


 " Belajar berarti membuat segala sesuatu yang kita jawab menjadi  hakikat-hakikat yang selalu menunjukkan dirinya sendiri pada kita setiap saat ... mengajar lebih sulit daripada belajar karena apa yang dituntut dari  mengajar:  membiarkan belajar ".(What is Called Thinking?, J. Gray:London: “Harper & Row”,  1968, Hal  14-15.)

Rabu, 09 April 2014

HARRY BROUDY (1905-1998)

Harry Broudy dilahirkan di Polandia dari keluarga Yahudi yang kaya, abak sulung dari empat bersaudara dan mengawali pendidikannya di Cheder (ruang belajar khas warga Yahudi) tradisional. Ia berimigarsi dengan keluarganya ke Massachusetts pada tahun 1912 dan memasuki sekolah Amerika tanpa penegtahuan bahasa Inggris sama sekali.